| Polling |
| |
|
Mengingat kondisi Institusi, masa kerja dan kepangkatan Customs next, Apa pilihan anda dalam karier di Bea Cukai saat ini |
| |
|
Hasil Polling
|
| |
|
|
| Promosi Ess IV tapi di negeri antah berantah |
22,22%
|
| |
|
|
| Promosi Ess V di KPM |
55,56%
|
| |
|
|
| Tetap Sebagai Pelaksana di Kantor Besar/Pilihan |
22,22%
|
| |
Jumlah Vote :
9 |
Login for vote! |
|
| |
|
|
| Yang anget..yang anget... |
|
Oleh : Andy Herwanto pada: 10-03-2010
Mengundang kehadiran rekan-rekan CX beserta keluarga, dalam acara Resepsi Pernikahan rekan kita :
Yulis Triono
&
Sari Andriani
Hari Minggu
Tanggal : 14 Maret 2010
Pukul : 11.00 - 13.00 WIB
Tempat : Gedung Pertemuan Pertamina (Wanita Patra)
Jl. Cempaka Putih Tengah XX B jakarta Pusat
...[selengkapnya] |
|
|
| |
Untitled Document
|
|
|
|
Family First, Customs Next --- Customs first, customs next --- Customsnext First
Oleh : Ibrohim 2009-09-03 16:39:31 [dibaca : 215 ] [komentar : 3 ]
Tulisan Saya berikut ini tidak berlaku bagi mereka yang memiliki (atau merasa memiliki) “total control” atas istri / anaknya (dalam definisi yang seluas-luasnya), mereka yang karena tugasnya terpaksa harus terpisah dari keluarga, atau bagi mereka yang masih lajang atau yang “kembali” melajang.
Tanpa survey, Saya mohon maaf bila berpendapat bahwa sebagian kecil dari kita (yang sedang atau pernah berkeluarga) mungkin pernah berada dalam situasi memilih antara keluarga (istri/anak) dengan selain keluarga. Definisi selain keluarga dan kontra argumen yang Saya coba buat adalah sebagai berikut:
1.Pekerjaan dan Karier (Customs) versus Keluarga
“First Lady” di institusi kita tidak mau kinerja yang pas-pasan dari bawahannya. Hal ini telah diterjemahkan oleh salah seorang pimpinan di tempat Saya bekerja (dalam upayanya memacu motivasi kami) sebagai: upaya berlaku keras kepada keluarga, bekerja overtime dan workaholic: berangkat pagi anaknya belum bangun pulang larut malam anaknya sudah tidur, dan Sabtu Minggu bersedia lembur.
Family 1st Customs next:
•Say no to working extra hours: bekerja cerdas (tidak perlu menghabiskan banyak waktu) dan bukan sekedar bekerja keras secara overtime;
•sistem reward dalam dunia kerja kita masih samar-samar, berharap reward tanpa carrier ke Pusat mungkin bagai “katak dalam tempurung”, tapi jangan pula kerjanya jadi samar-samar, punishment-nya (contrary to reward) sangat tidak samar-samar;
•pernikahan bukanlah sekedar prostitusi monogami dalam skala yang lebih bermartabat (mengutip film Memoirs of Geisha)! Kesuksesan dan penghasilan yang besar dari pekerjaan yang extra hours dengan mengabaikan kebersamaan dalam keluarga tidak selamanya tepat guna kecuali memang si suami (atau mungkin istrinya) telah siap “menerima” konsep Geisha tadi.
2.Kebiasaan (customs) versus Keluarga, Pekerjaan versus Kebiasaan
Kebiasaan di sini maksudnya hal-hal di luar keluarga (dan pekerjaan) yang dapat menyebabkan keluarga diabaikan (atau diputuskan). Definisi “customs” dapat diterjemahkan secara bebas tak terbatas pada “mo-limo” saja.
Terdapat dua kondisi yang menyebabkan Keluarga ditinggalkannya:
1.Dari Dalam: maksudnya dia menjauh dari keluarga karena dia merasa keluarganya sudah rapuh / tak dapat dikendalikannya lagi
Family 1st Customs next:
•Cobalah untuk berfikir terbalik: semua pernikahan memang rapuh kalau solid buat apa ada ikatan, so ikatlah sekuat-kuatnya karena itulah last resort (sebagian besar dari) kita;
Customs 1st, customs next:
•Bila memang tidak ada jalan masuk into the family dan terpaksa harus cari jalan keluar / berpisah / divorce (its your life and your choice so I highly respect you for that), (relatif) lebih baik berpaling kepada “Customs” dan bukan kepada “customs”.
2.Dari Luar: maksudnya dia menjauh dari keluarga karena daya tarik “customs” yang begitu kuat mempengaruhinya.
Family 1st Customs next:
•Exploitasikanlah pasangan atau putra putri kita (in a positive way)! Terhadap pasangan, Customsnext-ers mungkin lebih pandai Terhadap anak, yang dapat kita lakukan adalah membentuknya menjadi apapun yang dapat dicapainya kelak (tapi tanpa memaksakan kehendak) sehingga pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” menjadi tidak relevan lagi (kesadaran bahwa harapan/obsesi/kemampuan kita saat ini sudah mendekati kadaluarsa sehingga harus ditransfer kepada anak).
Customs 1st, customs next:
•Say no to “customs”, berhentilah sebelum ketagihan, dan berpalinglah kepada “Customs”. Sumber daya yang “mungkin” dulu mudah didapat sekarang tidak lagi dan bila dipaksakan menikmati kebiasaan yang boros sumber daya maka bisa “mati gaya-mati rasa-mati suri-mati beneran”. Banyak contoh kasus person di institusi kita yang terjungkal karena ketidakmampuannya melepaskan diri dari “customs”. Di sisi lain, competitor di Customs yang merupakan junior sekarang sudah jadi Atasan dan rumornya, sebentar lagi peluang jabatan akan stagnan sampai 2015.
Last but not least, Customnext First:
Buat mereka yang ikut dalam Ikatan Pr?d?p:
Sebagai perwakilan Customsnext, Anda membawa kepentingan Customsnext-ers. Semoga daftar tunggu calon pemangku jabatan yang ikut Anda susun (mungkin) dalam suasana kebatinan “tekanan” dari “the elders” (apalagi “the youngsters”) tidak membuat Anda pakewuh dan menyerahkan nasib Customsnext-ers tanpa syarat. Minimal, Anda yang terlibat harus dapat “daftar urut jadi” (nggak nyindir lho), kita dukung 1000% siapapun Customsnext-er-nya, pokoknya yang penting Customsnext First.
Atas opini Saya sebelumnya tentang PKD, terima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya (juga untuk tulisan di atas) kepada:
•Yth. para komentator, terutama buat F.A. yang “humble” mau komentar (two thumbs up! Semoga studinya lancar-lancar saja!)
•Yth. “individu” lainnya yang tidak komentar tapi merasa disentil, gak sengaja dan gak sempat ngedit, jangan “prita”-kan Saya ya! Sekedar beropini....
NB: met ultah Jun Yongki S. dan Taufik Varuna, apa kabar keluarga Fik!
|
|
| |
| Komentar |
|
|
Tri Budhi Haryanto [2009-06-18 13:19:28]
bro ... ampun baca tulisan lo...
mesti pelan 2x bacanya baru agak ngerti, itu pun mesti diulang 2x..he he...
thanks buat teman 2x yg mau berbagi ilmu, pengalaman, dan masukan lwt tulisan
semoga bermanfaat buat semua...
|
|
|
|
Sri Bagus Arosyid [2009-06-17 16:05:01]
untuk rekan Ibro dan Jarot....
terimakasih untuk tulisannya...
saya sampai berlinang air mata saya membaca tulisanmu kawan....
sekali lagi terimakasih....
|
|
|
|
Jarot Purwoko [2009-06-16 14:12:54]
Bro... tulisan loe klo sambil ngantuk kok "kena" bgt he he.., btw gue jadi inget cerita tentang harapan KECIL sang ANAK kepada ORANG TUANYA, cuma dialog singkat, semoga bermanfaat (buat yang udah punya anak maupun yang masih dalam proses, sorry klo repost..)
Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemukadi Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Ikhsan, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.
Biasanya, Ikhsan memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga,
Ikhsan menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah,enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hariAyah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulanrata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”
Ikhsan berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Ikhsan berlari mengikutinya.
“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.
Tetapi Ikhsan tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Ikhsan kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”
“Tapi, Ayah…”
Kesabaran Rudi habis. “Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Ikhsan.
Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Ikhsan di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Ikhsan didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,
“Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Ikhsan. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”
“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”
“Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.
“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga.Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-,maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-.Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Ikhsan polos.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|